Minggu, 25 September 2011

Keunikan Lokal Budaya Kabupaten Rembang


upaten Rembang
Keunikan Lokal Budaya Kabupaten Rembang
Keunikan Lokal Budaya Kabupaten Rembang
I.Upacara Adat
A. Upacara Syawalan.
Upacara Syawalan/ Kupatan ini dinamakan Syawalan karena dilaksanakan pada bulan Syawal (setelah bulan Ramadhan), dinamakan Kupatan karena bertepatan dengan acara di desa- desa yang melaksanakan sesaji ketupat dimana mengandung arti saling memaafkan dan saling berjabat tangan. Kegiatan ini diselenggarakan secara rutin setiap tahun yaitu lima hari setelah hari raya Idul Fitri.

Bertempat di Taman Rekreasi Pantai Kartini Rembang/Dampo Awang Beach,acara ini selalu ramai dihadiri oleh masyarakat Rembang dan masyarakat luar daerah.
Acara Syawalan ini sangat ramai karena ditunjang berbagai acara yaitu :
1.Kegiatan Lomba Perahu,dimana perahu-perahu yang sudah terdaftar sebagai peserta lomban mengantar para wisatawan berlayar ke Pulau Gede,Pulau Marongan dan Karang Borekan.
2.Wisata belanja
3.Hiburan Rakyat
4.Mandi Laut
B. Sedekah Laut.
Kegiatan upacara ini dilaksanakan oleh desa-desa para kelompok nelayan dalam rangka mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berharap semoga diberi keselamatan dalam mencari nafkah di laut dan diberi kemudahan unuk mendapatkan hasil yang berlipa ganda. Bentuk kegiatannya antara lain :
1. Pengajian Akbar
2. Hiburan Rakyat (kethoprak dan atau wayang kulit).
3. Larung sesaji (melarung sesaji yang berupa nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya.
Kegiatan ini dilaksanakan minimal satu hari dan maksimal tiga hari disemua desa dipesisir Pantai Utara.
Read More
Pusaka Sunan Bonang berupa “Bende” yang berbentuk gong kecil berwarna hitam ini hanya mamiliki garis tengah 10 cm. Pada zamannya,Sunan Bonang menggunakan “Bende” ini untuk memberi kabar atau undangan kepada teman Wali Songo. Para Wali akan langsung datang dan berkumpul untuk mengadakan Sarahsehan. Salain itu “Bende Becak” juga berfungsi sebagai tanda pemberitahuan akan terjadinya suatu peperangan atau musibah. Satia tanggal 10 Dzulhijah (Hari Raya Idul Adha) pada pukul 09.00 diadakan upacara Penjamasan di desa Bonang tepatnya di Rumah juru kunci makam Sunan Bonang (50 meter sebelah Timur dari makam Sunan Bonang). Pada upacara ini dibagi-bagikan ketan kuningdengan isi enti selai(dari kelapa manis) serta sobekan kain pembungkus “Bende Becak”. Selain itu juga diperebutkan air bekas Penjamasan Bende Becak ynag konon dipercaya mempunyai kekuatan untuk mudah mencari nafkah dan menyambuhkan berbagai macam penyakit.

II.  Kesenian Daerah
A. Tari Orek -  Orek
Orek-orek adalah suatu kesenian rakyat di Kabupaen Rembang yang berbentuk tari dengan iringan gamelan Jawa baik laras slrendro maupun pelok. Pelaku penarinnya terdiri dari 2 sampai 4 pasang atau lebih. Kesenian Orek_Orek mempunyai ciri khas yang berbeda dari kesenian rakyat yang lain. Walaupun dalam bentuk penyajiannya belum dapat berdiri sendiri,namun keberadaanya mempunyai daya tarik tersendiri yaitu bentuk penyajian yang disisipkan pada pertunjukan kethoprak. Sahingga nasyarakatpun mengenalnya sebagai kesenian kethoprakdan sebagian masyarakat lain menyebut sebagai Orek-Orek.adapun alur cerita yang dibawakan biasanya sama dengan cerita kethoprak antara lain: sejarah,legenda dan lain sebagainya.
Kesenian ini sekarang ini menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Rembang karena selalu mampu menarik perhatian kalangan diberbagai event,hal ini terbukti pada:
- Terpilih mewakili Festival Borobudur 1995
- Mewakili Festival Tari Rakyat tingkat Propinsi Kab Tegal 1997.
- Tampil di Taman Ismail Marzuki 1993.
- Duta seni di TMII 1994.
- Duta seni TMII 2001.
- Duta seni dalam Festival Tari Borobudur 2003
- Duta seni di TMII 2005
- Mengisi JATENG EXPO di PRPP Semarang 2005.
- Acar pembukaan resmi kegiatan PEMDA sampai sekarang
B. Kesenian Gambuh
Kesenian Gambuh merupakan gambaran dari upacara adat Gambuh yang ada kurang lebih sejak tahun 1856,kemudian mengalami perubahan bentuk fungsi dan sifat. Perubahan tersebut adalah perubahan dari fungsi ritual menjadi tontonan,dari bentuk upacar menjadi seni pertunjukan yang berjenis drama tari dan dari sifat sklar menjadi sekuler.
Upacara adat ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1856 di pemerintahan Raden Tumenggung Condro Adi Ningrat. Upacar ini digunakan sebagai upacara adat ntuk mengusir roh jahat yang dipercaya oleh masyarakat Kab Rembang sebagai penyebab terjadinya malapetaka.

C. Thong-Thong Lek
Thong-thong lek merupakan kesenian tradisional yang berbentuk seni pertunjukan musik tradisional maupun elektrik yang dapat dijumpai pada bulan Ramadhan tepatnya pada saat menjelang sahur serta berfungsi sebagai sarana penggugah sahur bagi kaum muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Festival musik tradisional thong-thong lek merupakan salah satu contoh pengembnagan dan pelestarian seni budaya tradisi. Setiap tahun festival ini dilaksanakan H-7 datangnya Hari Raya Idul Fitri. Pelaksanaan festival ini dijadikan event unggulan Kab Rembang yang diharapkan dapat menarik masa dari kawasan sekitar.

D. Gondoriyo
Gondoriyo adalah kesenian tradisional masyarakat Kab Rembang yang berbentuk drama atau sandiwara dengan mengangkat cerita rakyat yang legendaris yaitu ande-ande lumut.

E. Pathol Sarang
Pathol Sarang merupakan kesenian tradisional yang ada,berkembang dan hidup dilingkungan pesisir pantai terutama di Kec Sarang. Kesenian tersebut mempertunjukan adu kekuatan antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Tiap-tiap kelompok mempunyai algojo atau jago kepruk,yang artinya dalam bahasa Indonesia jago pukul. Serta mempunyai satu orang “landang” (promotor) yang bertugas menunjukan atau memamerkan kekuatan jagonya dalam adu kekuatan yang sangat akrobatik
F. Emprak
Emprak adalah kesenian tradisional yang berbentuk drama atau sandiwara yang ada dan berkembang dilingkungan masyarakat desa Karangasem Kec Kaliori Kab Rembang. Kesenian Emprak ini hampir mirip dengan kesenian kethoprak,tapi pada awal penyajian pertunjukannya ditampilkan atraksi tari Remong yang dibawakan penari putra,diiringi gamelan yang dipadukan dengan alat musik rebana dengan menggunakan irama seperti seni kentrung. Cerita dalam kesenian Emprak ini mengambil cerita sejarah dalam kehidupan di kerajaan Majapahit.
III. Peninggalan Sejarah
A. Museum Kamar Pengabdian R.A Kartini
Museum kamar poengabadian R.A. Kartini terletak di loaksi rumah dinas Bupati Rembang, tepatnya 100 meter disebelah timur alun- alun kota Rembang. Tempat ini merupakan rumah dimana R.A.Kartini dan R.M.A.A Djojodiningrat (suaminya) pernah tinggal. Museum kamar pengabadian R.A. Kartini menempati kamar pribadi R.A. Kartini dimana beliau melakukan semua aktifitasnya, menulis ide – idenya, dan juga tempat dimana dia melahirkan putra tunggalnya, R.M. Singgih Susalit. Didalam museum ini, kita dapat melihat benda – benda peninggalan R.A. Kartini seperti: tempat tidur; surat tulisan tangan asli R.A. Kartini kepada temannya, buku Habis Gelap Terbitlah Terang, bothekan, alat - alat tulis, koleksi piring – piring,meja merawat bayi, dan lain sebagainya.
B. Makam R.A Kartini
Lokasi makam R.A. Kartini berada di desa Bulu – Mantingan. R.A. Kartini wafat disuia 25 tahun pada tanggal 17 September 1904. Di kompleks pemakaman keluarga R.M.A.A Djojodiningrat ini juga teradapat makam R.M.A.A Djojodiningrat (suaminya) dan juga makam R.M. Susalit (putra tunggalnya).
C. Selodiri Terjan
Selodiri terjan berlokasi di desa Terjan, sekitar 48 km disebelah timur kota Rembang. Ditempat ini, kita akan menemukan batu – batu dari jaman pra sejarah dengan berbagai bentuk menyerupai kepala binatang ( kepala katak, ular dan buaya). Pada saat itu, batu ini digunakan sebagai sumber ilmu sains (ilmu falak). Selain itu juga terdapat batu raksasa yang memilki berat 500 ton dan tinggi 50 meter. Batu ini disebut SELODIRI ( batu berdiri). Batu ini sangat berguna bagi nelayan, jika mereka melihat batu ini telah nampak dari pandangan mata, maka itu adalah pertanda bahwa mereka akan mencapai daratan/ pantai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar